Krisis Otoritas Keagamaan Kontemporer "Literalisme Berjubah Salafi"

Muhammad Rofiq

Abstract


Dialektika antara literalisme dan pemikiran antitesisnya menjadi kontestasi yang tampil kembali di era kontemporer. Hanya saja fenomena yang tampil saat ini berbeda dengan preseden sebelumnya. Perbedaannya terletak pada kecenderungan yang lebih ekspansif dari gerakan salafisme. Salafisme saat ini menjadi fenomena yang menyebar (widespread) dan kian popular, baik di kalangan akademisi, kelompokkelompok profesional, masyarakat akar rumput sampai warga minoritas muslim di kawasan Eropa-Amerika (John Esposito, 2010). Tentu ada banyak faktor yang dapat menjelaskan hal tersebut. Jawaban yang paling tampak meyakinkan adalah adanya monopoli otentisitas (kemurnian) religius yang diklaim oleh pengusung salafisme dan tampak sangat atraktif bagi sebagian umat Islam. Dari perspektif lain, fenomena itu dapat pula dijelaskan dengan apa yang dipostulasikan dalam teori sosiologi pengetahuan bahwa dinamika sebuah diskursus selalu berkaitan erat dengan kekuasaan (power) (Ritzer, 2009: 67). Dalam hal ini ada upaya suatu rezim tertentu untuk menghegemoni ranah perpolitikan internasional dengan memanfaatkan satu pemikiran keagamaan yang bersifat monolitik dan rigid.


Keywords


Salafi, Literalisme, Otoritas Keagamaan

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2017 Muhammad Rofiq

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

ISSN: 1410-332X (p); 2540-2979 (e)

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License